Matasumut.com
SosokTerbaru

Budi Syahputra: Mengabdi dengan Hati, Membangun Kemandirian Masyarakat

Matasumut.com– Baginya, keberhasilan bukan sekadar tentang seberapa banyak program yang terlaksana, melainkan seberapa besar perubahan yang bisa dirasakan masyarakat. Sebab, membantu seseorang untuk bangkit dan mandiri jauh lebih bermakna daripada sekadar hadir memberikan bantuan.

Ada orang-orang yang menemukan kebahagiaannya melalui pencapaian pribadi. Ada pula yang justru menemukan makna hidup ketika melihat orang lain tumbuh, berkembang, dan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Bagi Budi Syahputra, pilihan kedua itulah yang sejak lama menjadi jalan pengabdiannya.

Lahir di Medan sekitar 45 tahun silam, Budi sudah akrab dengan dunia sosial sejak usia belia. Ketertarikannya terhadap kegiatan kemanusiaan bukan sekadar hobi atau aktivitas pengisi waktu luang. Ada panggilan hati yang membuatnya selalu ingin terlibat, hadir di tengah masyarakat, dan melakukan sesuatu yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Perjalanan itu dimulai dari keterlibatannya sebagai relawan di sebuah organisasi nonpemerintah (NGO) yang cukup dikenal di Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia mengabdikan waktu dan tenaganya untuk mendampingi masyarakat, terutama anak-anak yatim dan keluarga dhuafa.

Di Kota Binjai, kedekatannya dengan anak-anak dari keluarga kurang mampu tumbuh melalui berbagai kegiatan sosial, termasuk pemberian bantuan dan pendampingan pendidikan gratis yang berkualitas. Baginya, anak-anak tidak boleh kehilangan kesempatan untuk meraih masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Ia percaya bahwa pendidikan adalah salah satu pintu paling penting untuk mengubah kehidupan. Bantuan yang diberikan mungkin dapat meringankan beban hari ini, tetapi pendidikan akan membuka peluang yang lebih luas untuk hari esok.

Dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah, Budi mulai memahami bahwa persoalan sosial tidak cukup diselesaikan dengan kepedulian sesaat. Dibutuhkan pendampingan, kesabaran, konsistensi, serta upaya membangun kemampuan masyarakat agar kelak mampu mengelola kehidupannya secara mandiri.

Dari Relawan Menuju Profesional Pemberdayaan

Pertengahan 2009 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Budi mulai menapaki karier di sebuah lembaga filantropi terkemuka di Indonesia. Pengalaman profesional ini membawanya bertugas di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Riau, dan Sumatera Utara.

Perjalanan lintas daerah tersebut mempertemukannya dengan beragam karakter masyarakat, persoalan sosial, serta potensi lokal yang berbeda-beda. Ia belajar bahwa setiap wilayah memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Karena itu, pendekatan pemberdayaan tidak bisa diseragamkan.

Masyarakat bukan sekadar penerima program. Mereka adalah bagian terpenting dari proses perubahan itu sendiri.

Pemahaman tersebut semakin matang ketika Budi menekuni bidang konsultasi Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Lebih dari satu dekade, ia terlibat dalam pendampingan berbagai perusahaan nasional, termasuk perusahaan milik negara, untuk merancang dan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Dalam pekerjaannya, Budi tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah program dijalankan, berapa besar anggaran yang disiapkan, atau berapa banyak penerima manfaat yang terlibat. Ia lebih tertarik pada pertanyaan yang mendasar: apakah program tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat? Apakah masyarakat mendapatkan kemampuan baru? Dan yang paling penting, apakah perubahan itu bisa bertahan setelah program selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menjadi landasan dalam setiap proses pendampingan yang dilakukannya.

Ia juga menaruh perhatian besar pada pemetaan sosial masyarakat. Baginya, sebuah program yang baik harus berangkat dari pemahaman yang benar terhadap kondisi lapangan. Potensi, kebutuhan, persoalan, hingga kebiasaan masyarakat perlu dikenali terlebih dahulu agar intervensi yang dilakukan tidak keliru sasaran.

Sebab, tidak semua bantuan otomatis menjadi solusi. Terkadang, masyarakat tidak membutuhkan sesuatu yang baru, melainkan membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan potensi yang sebenarnya sudah mereka miliki.

Kolaborasi: Menghubungkan Banyak Kekuatan untuk Perubahan

Dalam perjalanan pengabdiannya, Budi semakin meyakini bahwa pemberdayaan masyarakat tidak mungkin dikerjakan oleh satu pihak saja.

Persoalan sosial memiliki banyak dimensi. Ada aspek pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, keterampilan, hingga persoalan perubahan pola pikir. Semuanya saling berkaitan dan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Karena itu, ia membangun pendekatan kolaboratif dengan menggandeng akademisi, pemerintah, dunia usaha, media, serta berbagai elemen masyarakat.

Bersama kalangan akademisi, ia mendorong pentingnya riset dan kajian sebagai dasar dalam merumuskan program. Pengetahuan dan hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan solusi yang lebih terukur dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Dengan pemerintah, ia melihat pentingnya keselarasan program pemberdayaan dengan arah kebijakan pembangunan daerah maupun nasional. Sementara bersama dunia usaha, ia berupaya memastikan tanggung jawab sosial perusahaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

Media juga menjadi mitra penting dalam pendekatan yang dibangunnya. Bagi Budi, media bukan hanya sarana publikasi, melainkan jembatan informasi yang dapat mempertemukan gagasan, menyebarkan inspirasi, sekaligus memperkenalkan potensi masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.

Satu hal yang juga menjadi perhatiannya adalah keterhubungan antara program pemberdayaan dengan kebutuhan dunia industri dan lapangan kerja.

Ia ingin agar kegiatan pelatihan dan peningkatan keterampilan masyarakat tidak berjalan sendiri tanpa arah. Apa yang dipelajari masyarakat harus memiliki relevansi dengan peluang ekonomi yang tersedia. Dengan pendekatan link and match, keterampilan yang dibangun diharapkan dapat membuka akses terhadap pekerjaan, usaha produktif, maupun peluang kemitraan.

Baginya, kolaborasi bukan sekadar mempertemukan banyak pihak dalam sebuah forum. Kolaborasi harus mampu menyatukan tujuan, mengoptimalkan sumber daya, dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan bersama.

Di sinilah ia melihat bahwa konsep pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dapat diwujudkan secara lebih nyata. Bukan hanya menjadi dokumen atau target global, melainkan hadir dalam kehidupan masyarakat melalui program-program yang konkret dan berdampak.

Membangun Mindset, Menumbuhkan Kemandirian

Di balik berbagai pengalaman dan aktivitas profesionalnya, ada satu hal yang terus menjadi perhatian Budi: membangun pola pikir masyarakat.

Ia menyadari bahwa sebesar apa pun dukungan yang diberikan oleh pemerintah, perusahaan, lembaga donor, maupun organisasi sosial, hasilnya tidak akan optimal jika masyarakat tidak memiliki kemauan untuk berubah dan berkembang.

Bantuan dapat membuka pintu kesempatan, tetapi kemauan untuk melangkah tetap harus tumbuh dari dalam diri masyarakat itu sendiri.

Karena itu, pendekatan pemberdayaan yang diyakininya tidak boleh membuat masyarakat terus bergantung kepada bantuan. Sebaliknya, setiap program harus menjadi proses pembelajaran untuk menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian mengambil keputusan, kemampuan mengelola potensi, dan kesadaran bahwa mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Budi ingin masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama yang menentukan arah kemajuan mereka sendiri.

Ia memahami bahwa perubahan pola pikir bukan pekerjaan sehari dua hari. Dibutuhkan proses panjang, pendekatan yang manusiawi, dan pendampingan yang konsisten. Namun, justru di situlah nilai sebuah pengabdian diuji.

Mungkin tidak semua perubahan dapat langsung terlihat. Ada keberhasilan yang tumbuh perlahan, dari seseorang yang mulai berani mencoba, keluarga yang mampu mengembangkan usaha kecil, kelompok masyarakat yang mulai bekerja sama, hingga komunitas yang akhirnya mampu mengelola potensinya secara mandiri.

Bagi Budi, perubahan-perubahan seperti itulah yang membuat perjalanan panjangnya tetap memiliki arti.

Terus Bergerak karena Ada yang Harus Diperjuangkan

Tujuh belas tahun lebih konsistensinya dalam dunia sosial dan pemberdayaan masyarakat telah membentuk karakter serta cara pandangnya terhadap kehidupan.

Pengalaman bertemu banyak orang, mendengarkan berbagai persoalan, menyaksikan keterbatasan sekaligus potensi masyarakat, membuatnya semakin memahami bahwa pengabdian bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang bersedia terus bekerja dan memberikan kontribusi nyata.

Keyakinan dan optimisme menjadi energi yang membuatnya tetap bergerak. Ia tidak ingin berhenti hanya karena sebuah program telah selesai atau sebuah kegiatan telah ditutup. Baginya, selalu ada pekerjaan berikutnya, ada komunitas yang perlu didampingi, ada potensi yang perlu dikembangkan, dan ada kesempatan untuk mempertemukan pihak-pihak yang dapat saling menguatkan.

Di tengah kesibukan profesionalnya, semangat sosial yang tumbuh sejak usia muda itu tetap menjadi bagian penting dari dirinya.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat masyarakat yang dahulu membutuhkan bantuan, perlahan mampu menjadi lebih mandiri. Ada kebahagiaan ketika anak-anak yang pernah didampingi memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik. Ada kebanggaan ketika sebuah kelompok masyarakat berhasil mengembangkan usaha dan menciptakan peluang bagi lingkungannya.

Semua itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat melahirkan dampak yang lebih besar.

Budi mungkin tidak selalu berada di depan untuk mendapatkan perhatian. Namun, ia ingin berada di antara orang-orang yang bekerja, menghubungkan, mendampingi, dan memastikan bahwa sebuah gagasan baik tidak berhenti sebagai wacana.

Khoirunnaas Anfauhum Linnas

Ada sebuah ungkapan yang tampaknya sederhana, tetapi memiliki makna mendalam dan menjadi pegangan Budi dalam menjalani kehidupannya:

“Khoirunnaas anfauhum linnas.”

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kalimat tersebut bukan sekadar motto yang indah untuk diucapkan. Bagi Budi, itulah prinsip yang ingin terus dihidupkan dalam setiap langkah pengabdiannya.

Ia percaya bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau pencapaian pribadi. Ada ukuran lain yang jauh lebih bermakna, yakni seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain dan seberapa besar perubahan positif yang dapat ditinggalkan.

Prinsip itulah yang membuatnya terus membuka ruang kemitraan, membangun jejaring, dan mengajak berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Ia ingin lebih banyak orang memahami bahwa kepedulian sosial bukan hanya tanggung jawab lembaga filantropi, pemerintah, atau perusahaan. Kepedulian adalah tanggung jawab bersama. Setiap orang, sesuai kapasitas dan kemampuannya, dapat mengambil peran.

Perjalanan Budi Syahputra mungkin masih panjang. Masih banyak potensi masyarakat yang perlu dibangkitkan, masih banyak peluang yang harus dihubungkan, dan masih banyak cita-cita kemandirian yang perlu diperjuangkan.

Namun, satu hal yang tampaknya tidak berubah sejak ia memulai langkahnya sebagai relawan bertahun-tahun silam: keinginannya untuk terus hadir dan memberikan manfaat.

Sebab, baginya, hidup akan terasa jauh lebih berarti ketika keberadaan seseorang tidak hanya membawa kebaikan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi jalan bagi orang lain untuk tumbuh dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Mengabdi bukan tentang seberapa lama kita berjalan, melainkan tentang seberapa banyak kehidupan yang ikut tumbuh karena kehadiran kita.

Related posts

Rico Waas Ajak Talenta Muda Medan Kembangkan Startup Digital dan Ciptakan Lapangan Kerja

Redaksi

RSUD dr M Thomsen Nias Resmi Dialihkan ke Pemko Gunungsitoli, Bobby Nasution Tekankan Peningkatan Layanan

Redaksi

Ekspor Terasi Asahan ke Thailand Tembus Rp230 Juta, Produksi Perikanan Capai 50 Ribu Ton

Redaksi

Leave a Comment